MENATA JIWA DENGAN AKAL SEHAT

Image

Terkadang memang kita butuh rehad sejenak, berhenti untuk menata ulang kehidupan yang pernah kita jalani. Rehad untuk melihat perjalanan yang pernah kita lalui dan memasukkannya ke dalam akal kita untuk diresapi serta untuk diolah menanjadi sebuah pelajaran penting untuk diri kita. Terkadang memang disaat seperti itulah baru kita melihat jalan-jalan keluar yang sebelumnya sangat sulit untuk kita temukan. Bakan disaat-saat seperti itulah otak kita bekerja karena pengaruh jiwa yang mulai tenang.

Belajar akan pentingnya sebuah perenungan adalah belajar bagaimana memahami diri ini, memahami konsep manusiawi yang telah ada pada diri kita. Karena pada dasarnya kita adalah makhluk yang dibekali dengan nilai-nilai kemanusiaan, dimana kita memiliki perasaan-peerasaan benci, marah, cinta, rindu, serta yang lainnya. Bagaimana kita bias merasakan perasaa-perasaan seperti tadi adalah sebuah kewajaran yang pasti ada pada setiap jiwa manusia, namun bagaimana menggapi serta mengambil tindakan resfon atas perasaan itu adalah sebuah ketentuan akal yang akan menentukan kondisi jiwa kita. Oleh karenanya Allah sering mengajarkan kita untuk bagaimana mengatur jiwa serta hati kita dengan sering-sering berfikir.

Menempatkan suatu perasaan melebihi pada porsir akal yang telah diberikan, artinya memberikan ruang yang lebih dari yang lainyya maka kondisi seperti itu akan melahirkan kelainan-kelainan jiwa pada diri seorang. Berfikir akan penting dan indahnya tentang rasa cinta pada diri kita akan melahirkan kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan dan ditaburi oleh bunga yang bermekaran disekitar kita. Tapi sebenarnya pemikiran itu bisa saja menjadi boomerang yang akan menghancurkan jiwa kita jika kita tidak mampu menggunakan akal kita untuk mencernanya. Padahal perasaan mencintai itu juga dihiasi dengan jurang-jurang terjal yang akan kita lalui, pengorbanan-pengorbanan besar yang siap kita berikan, serta komitment-komitment besar yang harus siap kita sumbangkan.

Jurang-jurang perjalanan yang harus siap kita lalui adalah bagaimana kita bias menyiapkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang menimpa pada jiwa kita. Kesiapan ini adalah hal yang harus ada, karena mau tidak mau kemungkinan melewati jurang-jurang itu sangat besar dan hampir dipastikan akan melaluinya. Disinilah dibutuhkannya jiwa yang kuat untuk menyiapkan kesiapan menghadapi kemungkinan itu. Seseorang yang sedang jatuh cinta akan memiliki kekuatan besar pada jiwanya, namun jika dia tidak siap untuk menerima kemungkinan buruk yang mungkin saja terjadi maka jiwanya itu akan sangat rapuh. Disinilah dibutuhkannya akal itu, saat kemungkinan buruk itu kita alami maka cara berfkir-cara berfikir sederhana itu menjadi sangat baik untuk menenangkan jiwa yang sedang diguncang perhara. Dan ternyata kondisi jiwa kita bias kita tularkan kepada orang lain. Jika kita bergaul dengan orang yang jiwanya sehat dan sedang memiliki energy besar maka tidak menutup kemungkinan jiwa kita akan merasakannya dan cenderung energinya itu tersalurkan. Begitu juga dengan kondisi jiwa yang tidak baik, maka berhati-hatilah dan bersiap-siagalah seringnya interaksi dengan orang yang seperti itu.

Pengorbanan-pengorbanan besar yang harus ada pada diri kita dibuthkan agar ketika jiwa kita sedang rapuh, dibutuhkan kerja keras yang kuat untuk keluar dari zona sakit itu, meski berat dan terkadang sangat menyakitkan. Namun itulah jalan yang ahrus ditempuh untuk menyehatkan kembali jiwa itu. Orang yang sulit untuk melakukan qiyamul lail dibuthkan pengorbanan besar agar dia bisa bangun ketika ingin bangun untuk qiyamul lail, melawan rasa ngantuk yang biasanya kita ikuti, melawan dinginnya malam dan air yang sangat membekukan di malam hari, serta berani untuk membuang kesempatan berada di zona nyaman. Namun bergembiralah kita yang sudah mulai terbiasa melakukan itu, artinya kita telah memasuki dunia baru dan keluar dari persoalan jiwa yang rapuh.

Dan yang ketiga adalah komitment yang kuat agar jiwa itu tetap pada batas normalnya. Komitment adalah sebuah kepastian yang akan menjawab tantangan pada diri kita, termasuk tantangan yang dialami oleh jiwa kita. Komitment lebih dekat dengan kata istiqomah, keistiqomahan akan didukung oleh seberapa kuta komitment kita akan sesuatu hal. Dengan mengolah dalam akal kita maka komitment jiwa akan dapat kita lakukan. Orang yang sudah banyak memiliki pengalan jiwa cenderung akan memiliki akal yang cerdas, meski pengalaman itu dari oaring lain, dirinya sendiri, atau kombinasi dari pengalamannya sendiri dan orang lain. Itulah pungsinga akal, berfikir 1500 kali untuk keluar dari komitment jiwa yang sudah kita tata rapi.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s