Yakinlah …. Harapan itu Masih Ada !!!!

Iman bagi seorang muslim adalah kekuatan utama yang harus dijaga. Iman adalah kosakata yang membangun karakter dan jiwa seorang muslim. dengan iman segala ketentunaan duniawi dan perhitungan akal manusia tidaklah ada apa-apanya. boleh seisi dunia menginginkan kegagalan pada diri kita, namun jika Allah yang mengatakan TIDAK, kamu akan sukses…. maka siapakah yang dapat melawan itu…? tidak, sekali-sekali tidak ada yg akan mampu mengubah ketentuan Sang Maha Perkasa….

“Hai orang-orang yang beriman! Yakinlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada Kitab yang diturunkan-Nya kepada Rasul-Nya, dan kepada Kitab-Kitab yang diturunkan-Nya terdahulu. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, Malaikat-Malaikat- Nya, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, dan Hari Kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat jalan sejauh-jauhnya” (QS. 4 : 36)

 Bekerja tanpa iman maka hanya akan menyia-nyiakan energy yang terkuras, bekerja tanpa iman hanya akan mengantarkan seseorang hanya sampai pindu dunia saja, dan bekerja tanpa iman hanya akan membuang-buang waktu belaka.

Marilah kita merenungi QS.An Nisa Ayat 124

Barangsiapa yg mengerjakan amal-amal shaleh baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yg beriman maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.”

Inilah ayat yang menggerakkan para sahabat rasulullah saw untuk siap siaga menunggu panggilan Jihad, siap mempersembahkan jiwanya untuk ditukarkan dengan syurga. Inilah ayat yang menggerakkan para sahabat yang siap menyumbangkan sebagian harta bahkan ada yang menyumbangkan setengah dan ada pula yang semua hartanya, dan ketika ditanya mana yang engkau sisakan untuk keluargamu, mereka menjawab “Allah dan rasun_Nya”. Inilah ayat yang menggerakkan para sahabat untuk senantiasa mendahulukan saudaranya dalam kepentingan dunia, yang sebenarnya mereka juga sangat membutuhkannya.

Subhanallah, begitulah jiwa-jiwa itu ditempa dengan kekuatan iman. Mereka sangat yakin ketika menjual jiwa yang hanya satu-satunya akan ayat yang menyatakan balasan bagi para syuhada. Mereka yakin ketika menginfakkan harta benda mereka bahwa Allah akan membalasnya sepuluh kali lipat bahkan menjapai 700 kali lipat dari yang diberikan. Dan terbukti tidak ada sahabat yang miskin dan kehabisan harta apalagi kekurangan  ketika menginfakkan harta mereka. Kita mengenal Abdurrahman bin Auf yang emnginfakkan 700 rombongan barang dagangannya untuk kaum muslimin, kita juga mengenal Umar bin Khattab yang menginfakkan setengah hartanya untuk berjihan yang kemudian pada waktu itu juga Abu Bakar menginfakkan semua hartanya. Tapi pernahkah mereka kekurangan harta, tidak Allah senantiasa mencukupkan kehidupan dunia mereka bahkan mereka sangat nyaman dengan ekhidupan mereka.

Selain balasan akhirat, iman juga akan menjamin kehidupan dunia kita. Tidak pernah terbayangkan oleh tokoh manapun, dengan teori apapun, dan cara berfikir manusia manapun sebelum lahirnya generasi Tangguh ini, bahwa Perang Badar akan dimenangkan oleh kaum Muslimin, bahwa perang Ahzab akan dimenangkan pula oleh kaum muslimin. Secara matematika jelas kaum muslimin kalah jumlah, secara teori perang jelas kaum muslimin tidak ahli dan perlengkapan senjata lebih minim, secara akal manusia jelas tidak mampu. Namun secara iman, peperangan itu dimenangkan oleh kaum muslimin. Subhanallah, mari kita merengungi perkataan Allah yang terlantun indah dalam QS.Al Anfal ayat 65

Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti”

Tanpa iman maka mustahil mereka akan menang, namun dengan iman akan memunculkan pertolongan dari Yang Maha Perkasa dan itu menajdi kekuatan yang menguatkan jiwa dan mental perang mereka, membangkitkan gelora yang berkecambuk dalam setiap para sahabat.

Yakinlah ketika jumlah ktia sedikit, berarti kualitas yang ada pada setiap diri itu jauh lebih baik dari jumlah yang menumpuk-numpuk. Jumlah bukan menjadi ukuran kemenangan, namun hanya sebagai ukuran kuantitas. Kuantitas tidaklah menajmin kemenangan, karena seringkali yang banyak itu dikalahkan oelh yang sedikit. Namun yang menajdi ukuran kemenangan adalah seberapa yakin kita untuk bisa menang, seberapa yakin kita akan kekuatan yang kita miliki, dan seberapa yakin kita kepada Sang Maha Pemberi Kemenangan.

“Hai Orang-orang yang beriman. Jika kamu menolong Agama Allah maka Allah akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad : 7)

Konsep iman ini bisa kita bawa ke dalam kehidupan sehari-hari kita. Yakinlah sama Allah, yakinlah dengan janji-janji_Nya karena Dia Maha menepati Janji. Maka akan kita temukan kekuatan dan keajaiban yang jauh dari perhitungan akal manusia. Allah yang maha Perkasa mampu mengubah malam menajdi siang, mengubah siang menjadi malam , dan emnghidupkan yang mati sertta mematikan yang hidup. Jika semua itu mampu dilakukan_Nya maka alangkah mudahnya bagi Allah untuk mengubah kemungkinan-kemungkinan terbatas yang dipikirkan oleh akal manusia, betapa mudahnya Allah mengubah nasib yang telah diponis untuk tidak bisa menjadi apa-apa diubah_Nya menjadi manusia super sukses, betapa mudahnya Allah memberikan kekayaan, memebrikan rumah, memberikan pasangan, bahkan jika Allah ingin memebrikan dunia ini kepada kita maka tidak aka nada yang mampu menolaknya.

Maka dengan alasan apalagi kita akan meragukan kekuasaan Allah, sungguh merugilah kita jika meragukan itu semua. Maka berharaplah hanya kepada Allah dengan keyakinan yang sepenuh hati dan jiwa, maka Allah akan menurunkan keajaiban dan pertolongannya. Insya Allah.

Allah bahkan memanggil-manggil kita dan menunggu-nunggu kedatangan kita untuk meminta kepada_Nya. “Berdo’alah kepadaku, niscaya akan Ku kabulkan,…”. Diwaktu-waktu shalat fardu, shlat sunnah duha, dan tahajud Allah senantiasa mendatangi hamba_Nya agar mereka menimta kepada_Nya. Maka sungguh merugilah kita jika kita lalai akan hal itu. Presiden belum tentu mendengarkan permintaan kita, gubernur, Bupati apalagi, mereka hanyalah manusia terbatas yang tidak bisa mengabulkan setiap permintaan rakyatnya, mereka manusia terbatas yang tidak bisa mendengarkan semua keluhan rakyatnya.

Memang keyakinan tidak dapat dimiliki oleh jiwa-jiwa yang lalai, tidak dapat dimiliki oleh hati-hati yang keruh, dan pikiran yang kotor. Iman adalah mata air kehidupan yang jernihnya sebening embun yang berkilauan terkena cahaya pagi yang menghangatkan. Mereka yang memiliki keyakinan adalah mereka yang bertahan terhadap ujian dan cobaan serta badai yang menimpa perjalannya. Karena mereka bisa bertahan kaerna yakin bahwa ini hanyalah sementara, ada Allah yang akan menjaga mereka, mereka yakin badai pasti berlalu, dan mereka yakin bahwa pertolongan Allah akan segera datang.

“… dengan kitab itu pula Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, …” (QS. Al Baqarah : 257)

 “orang-orang yang dibukakan Allah hatinya (untuk) berserah diri lalu ia mendapat cahaya dari Rabbnya”  (QS. Az Zumar : 22)

 Iman bukanlah paksaan, namun bagaimana akal ini memilih konsekuensi dalam setiap langkah dan perbuatan kita. Iman adalah pilihan bagi mereka yang menyadari pentingnya memiliki dan merasakannya dalam hati-hati yang merindukannya. Karena iman sangatlah dekat dengan cinta, cinta adalah harmoni kehidupan yang indah. Dan cinta akan melahirkan kebahagiaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s