Kekuatan Dakhsyat dari jiwa yang Lembut

Image

Satu lagi pelajaran yang begitu berharga dalam diri yang penuh kekurangan ini. Ya, bagaimana menjaga prifasi seseorang. Dunia tidak menjanjikan untuk keterjagaan itu, namun jiwa-jiwa yang bertanggungjawablah yang mampu memelihara dan menjaga perasaani itu.

 Perasaan yang lebut terkadang sering dan sangat rentan untuk tersakiti, untuk itu dibutuhkan rasa optimism yang mampu mengimbangi perasaan hati yang lembut itu agar mampu menjadi jiwa yang tegar.

 Jiwa itu bagaikaikan mata api yang melayang-layang, menjulang tinggi mencapai tempat tertinggi. Sehingga membutuhkan perangkat-perangkat yang mampu mengantarkan jiwa itu ke tempat yang seharusnya. Jikalau tidak mampu menyiapkan perangkat itu, maka jiwa itu akan terseok-seok mengangkat beban berat itu.

 Semoga jiwa-jiwa yang terzolimi mampu memunculkan karakter-karakter tangguh yang mampu menjawab tantangan zaman. Karena jiwa yang terzolimi akan sangat cepat mencapai titik tertingginya untuk dapat melakukan take oper dalam kehidupan dan harapannya. Semoga jiwa-jiwa itu menjadi tegar dan sabar dalam menjalani masa-masa sulit itu.

 Orang yang romantic biasanya memiliki jiwa yang lembut, dan sering sekali menjadi rapuh (Anis Matta). Namun jiwa yang lembut itu juga mampu menjadi kekuatan yang dakhsyat. Karnanya  jiwa yang lembut itu jangan sampai membuatnya sakit dan terlukai, karena kekuatan mahadakhsyat akan kita saksikan setelah itu.

Biarkan Waktu yG Mengujinya

Imagediawal kedatangannya membuat semua organ dalam tubuh bergetar. seakan diterpa badai yang sangat dakhsyat, namun raga masih bisa menikmatinya. bagaikan digoncang gempa bumi yang meluluhlantahkan bangunan, namun tetap saja bisa bertahan. kedatangannya memang tidak bisa diprediksi oleh semua jenis ahli Fisika maupun Matematika, termasuk badan Geometorologi juga tidak bisa.

membuat jiwa yang terkapar menjadi segar kembali, menghidupkan sel-sel syaraf yang dulunya sempat mati, mengembangkan kreatifitas yang sempat tidak pernah teruji, dan mengubah jalan menjadi lebih rata.

“biarlah waktu yang akan mengujinya” (Ustdz. Fitrah Saputra,S.Pd.)

ibarat menantikan senja yang mulai menampakkan pesona menjelang malam hari. begitulah harapanku agar dia kembali datang dengan sosok yang akan memberikan keindahan dalam senjanya.

Jangan Gengsi Menjadi Baik

Kebaikan akan mengantarkan kita kepada moment-moment positif yang saling tarik menarik dengan moment-moment positif lainnya. itulah hukum I Newton. maka solusinya adalah membiasakan diri  dalam lingkaran-lingkaran kebaikan itu agar dapat tetap menemukan moment-moment positif yang selama ini kita cari.

menjadi perhitungan dan butuh strategi untuk dapat membiasakan dalam pola hidup seperti itu. karena bagi sebagian orang yang tidak terbiasa dalam kebiasan hidup seperti itu akan merasa canggung (gengsi). langkah awal adalah penentunya, jika kita sudah bisa memulainya maka langkah selanjutnya adalah istiqomah di dalamnya, maka akan muncullah yang namanya pembiasaan diri dalam suhu kebaikan itu.

jika perasaan gengsi masih ada, maka itu masalah pada diri kita yang harus segera diubah dan dimanage frekuensinya. karena kalau dibiarkan dalam frekuensi yang sama, maka akan merusak alunan nada yang selanjutnya. jadi munculkan frekuensi itu dari dalam diri kita dan jangan hiraukan orang pada saat kita memulainya, karena itu hanya akan merusak cita rasa dari dalam diri kita

kebaikan itu membutuhkan seni untuk menglolanya. Karnanya pelajari diri kita dan lingkungan sekitar kita. Setelah itu atur seni apa yang ingin kita karyakan di dalamnya. Jangan gengsi untuk menjadi baik, karena kebaikan itu akan membuat kita bergengsi

Inilah Aku, Meski tidak Sepenuhnya

Image

Inilah Aku, Meski tidak Sepenuhnya

Namaku adalah Zulkhaeri Ibnu Maliki, dilahirkan dari sepasang keluarga yang sederhana. Ayahku Bernama Maliki, berasal dari Kabupaten Lombok Timur-NTB sementara Ibumu bernama Mustiah berasal dari Lombok Barat-NTB. sehingga lahirlah saya (zulMM) anak kedua dari 4 bersaudara.

Kakak tertuaku bernama Malik Hidayat, sekarang sudah Sarjana jurusan MIPA UM. adik pertamaku bernama Wardah sedang menjalankan Sekolahnya di MAN 2 Mataram, sedangkan adik paling kecilku bernama Maskatur Rahmi, sedang menjalani sekolahnya di SMPN 8 Mataram.

aku dilahirkan pada tanggal 15 Oktober 1991 di sebuah dusun kecil di kampungku, bernama Dusun Belencong. tepatnya di Lombok Barat NTB.

Sekarang sedang menjalani Kuliah di FKIP-UM NTB Jurusan Pendidikan Matematika Semester 5 dan akan segera memasuki Semester 6. target lulus tahun 2014 (akan diusahakan 8 Semester).

Hobbiku adalah mengajar (ya sesuai dengan propesiku nanti) dan juga Berbisnis mencari karunia_Nya yang begitu luas dihamparkan di permukaan bumi. kata guru ngajiku “kapan nikah ?” saya jawab “2015” hehehe…… “ane catat ni…” resfonnya…. Amin…

Saya memiliki beberapa teman yang menginspirasi hidupku. ada yang super semangat, ada yang tekun, teliti, ada yang propesional, ada yang tegas, dermawan, peduli, bahkan ada yang gombal, dan lebay…. namun mereka semua adalah sahabatku ayng mampu memberikan inspirasi dalam hidupku….

aktifitas saat ini masih berputas di Kampus, sekretariat, rumah, dan mengaji. meski sedkit namun sudah mampu menguras waktu, energi dan pikiranku dalam keseharian, dan terkadang istirahat jika lago boring…. dan biasanya dilakukan di rumah (me-Refresh) kembali).

Motto hidupku adalah “terus melangkah karena HARAPAN itu MASIH ADA”. artinya setiap kita harus memberikan karya terbaik kita yang bisa kita persembahkan untuk Negri dan Agama ini.

Okey kawan, mungkin itu gambaran singkat hidupku, namun masih banyak lagi yang harus dipaparkan jika ingin mengetahui tentang diriku, karnanya dengan membaca tulisan-tulisan saya maka anda akan dapat mengetahui lebih jauh tentang diri saya… “selamat membaca kawan …”

M. Anis Matta – Orasi yang Penuh Makna

Image

M. Anis Matta - Orasi yang Penuh Makna

Taujih Presiden PKS Anis Matta Konsolidasi Kader PKS DPW Jabar

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
(“Aku” Chairil Anwar)

Ikhwah fillah, jika diumpamakan kita adalah anak kecil yang jatuh ke dalam sumur, disiarkan secara live oleh berbagai media dan ditonton oleh seluruh manusia, jangan memikirkan apa yang ada dalam benak orang yang menonton kita. Berpikirlah untuk berusaha naik.. look inside, jangan merasa malu, jangan merasa bersalah, jangan merasa tidak berdaya. Karena musuh terbesar kita adalah perasaan tidak berdaya itu.

Itulah mengapa Nabi SAW mengajarkan pada kita doa : “Allahumma inni a ‘udzubika minal ‘ajzi wal kasl…..”

Jika kita terus berusaha untuk keluar sumur, maka yakinlah orang-orang yang semula menonton itu tidak akan lagi berfikir mengapa antum berada dalam sumur, tetapi mereka akan bergabung bersama antum untuk mengeluarkan antum dari sana. Kita harus tunjukkan pada bangsa ini bahwa kita adalah partai yang cepat belajar, bisa segera sadar jika ada kesalahan, juga pintar dalam recovery.

Dalam perang Uhud 70 sahabat syahid, bukan karena kehebatan musuh, tetapi karena keteledoran pasukan pemanah. Tetapi Rosul tidak menegur mereka saat mereka melakukan kesalahan. 3 hari setelah itu nabi kirim pasukan ke qabilah-qabilah diskitar Madinah yang sudah menunjukkan gejala melepas diri dari madinah karena mereka berfikir Madinah sudah lemah, sudah habis.. Tapi Nabi tidak mau memberi ruang dan waktu bagi mereka untuk berfikir melepaskan diri..

Satu-satunya cara untuk menghilangkan musibah dalam pikiran kita adalah dengan melupakannya. Kita tidak punya waktu untuk dikasihani. Jangan sampai energi kita habis hanya untuk menyesali diri.. Salurkan energi kita untuk perbaharui diri. Sekaranglah waktunya kita untuk naik…. ALLAHU AKBAR !!!